Sunday, 31 August 2014

Ijab Qobul, Tak Semudah Mengatakannya


Siapa yang tidak tahu kalimat yang diucapkan saat Ijab Qobul?? Sudah pasti semua mengetahuinya. Ijab Qabul berbunyi seperti ini “Saya terima nikahnya si fulana binti fulan dengan Mas Kawinnya …”

Namun, tahukah apa sebenarnya makna dari Ijab Qabul?? Maknanya adalah “Maka aku tanggung dosa-dosanya si fulana dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si fulana, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”.

Jika aku (suami) berhasil, maka janji Allah swt adalah surga dimana banyak bidadari disana, salah satu bidadari tersebut adalah istriku yang sholehah.

Jika suami berhasil, maka Allah swt akan mengumpulkan seluruh keluarganya di surga dengan catatan keluarganya beriman dan sholeh.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Maka dari itu Allah swt memerintahkan suami untuk menjaga keluarganya dan suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya. Jika berhasil, maka ganjaran surga akan diperoleh.

Lalu bagaimana jika suami gagal dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya?

”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku.” (HR. Muslim)
Begitu beratnya pengorbanan suami terhadap istri, mulai saat Ijab terucap karena saat itulah dimulai perjanjian seorang manusia dihadapan Allah swt, disaksikan seluruh malaikat dan manusia. Maka, saat itulah seluruh hidup istri dan anak-anaknya akan menjadi tanggung jawab suami dan suami wajib mengingatkan dan membimbing istri.

Dalam rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Suami memiliki kewajiban yang berat dalam menjaga istri dan anak-anaknya dalam urusan dunia dan akhirat, menafkahi kebutuhan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Hal tersebut dapat dijalankan sebagaimana seharusnya, jika diimbangi ketaatan seorang istri terhadap suaminya. Istri yang taat akan mentaati semua kewajibannya, mentaati suaminya sesuai dengan syari’at agama. Hak seorang suami di atas hak siapapun selah hak Allah swt dan Rosul-Nya, termasuk hak kedua orang tua.

Jika ganjaran bagi seorang suami berhasil menjalankan semua janji yang diucapkannya saat Ijab Qobul adalah surga, maka tidak ada bedanya dengan ganjaran seorang istri yang taat pada perintah suaminya, yaitu surga. Dalam hal ini, perintah yang wajib ditaati seorang istri adalah perintah suaminya yang tidak melanggar syari’at agama Islam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)



Oleh karena itu, sebaiknya seorang suami mengetahui hak dan kewajibannya sebagai seorang suami, mengetahui makna dibalik ucapan Ijab saat akad nikah, agar dapat mengerti betapa berat tanggung jawabnya setelah pengucapan Ijab tersebut. Begitu pula seorang istri, harus mengetahui hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi anak-anaknya, mengetahui makna dibalik Ijab yang diucapkan suami ketika akad nikah, sehingga mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang merugikan, sehingga dapat meringankan langkah suaminya menuju surga yang Allah swt janjikan.


- See more at: http://muslim-academy.com/ijab-qobul-tak-semudah-mengatakannya/#sthash.Y8A0cjmT.dpuf

Saturday, 30 August 2014

Nabi Muhammad Saw Pedagang Sukses tetapi Miskin



Assalamu'alaikum.....

Alhamdulillah, segala puji hanya milik allah serta sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda rasulullah saw, keluaraganya (ahlul bait) para sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman.

Kenapa Muhammad dikatakan adalah seorang pedagang yang sukses, padahal dalam kehidupannya sehari-hari sangatlah miskin dan serba kekurangan. Oleh karena itu patutkah dia disebut pedagang yang sukses, seperti para saudagar-saudagar kaya pada zamannya.

Mari kita perhatikan dengan membaca artikel ini secara keseluruhan, sehingga kita semua dapat memahami tujuan saya menulis artikel ini.

Muhammad bin Abdullah adalah seorang yang hidupnya sangat sederhana dan berusaha menjauhkan diri dari kehidupan dunia, padahal beliau adalah seseorang Pedagang yang sukses, yang selalu mendapatkan keuntungan yang sangat besar, sehingga membuat seorang wanita kaya, dan sekaligus adalah tuannya, yaitu Khadijah menjadi senang, lantaran dagangannya selalu habis terjual. Bukan itu saja Khadijah pun mulai tertarik kepada pemuda ini (Muhammad) yang saat itu baru berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah adalah seorang janda kaya raya yang terpaut umur 15 tahun lebih tua dari Muhammad bin Abdullah dan diapun adalah seorang pedagang yang terbilang sukses dan terpandang dikalangan bangsawan Arab pada saat itu, mereka pun menikah.

Namun dibalik itu Muhammad juga adalah seorang yang menyebut dirinya adalah utusan Allah, ia diutus untuk menyebarkan agama Islam kepada seluruh manusia. Dengan demikian Khadijah sebagai istri Muhammad merelakan seluruh hartanya untuk membantu dakwah Muhammad dalam menyebarkan Risalah Allah ini.

Sebagai seorang yang sukses dalam berdagang, Muhammad tetap saja hidup miskin dan bahkan ketika Khadijah wafat, beliau mengalami masa- masa sulit dalam kehidupannya sehari- hari dan sering berpuasa karena tidak ada sedikitpun makanan yang tersedia dirumahnya. Padahal beliau adalah seorang pedagang yang terbilang sukses.


Sejak beliau diangkat oleh Allah sebagai Rasul, harta yang tadinya ia miliki bersama Khadijah habis tak tersisa, ia korban semua hartanya untuk berdakwah, menolong orang-orang fakir dan miskin dan selalu memberi makan anak-anak yatim, sehingga apa yang dia punya habis untuk dibelanjakan ke jalan Allah.

Kemiskinannya membuat salah satu gunung Hud prihatin dan merasa kasihan terhadap Muhammad, dengan berkata:

"Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bisa merubah diriku menjadi emas atas izin Allah !"

Tetapi Muhammad menolak, karena ia tidak cinta kepada dunia. "Cinta dunia awal dari kejahatan". Demikianlah Muhammad menjauhkan diri dari kehidupan dunia, padahal dia adalah seorang nabi dan rasul yang bisa saja meminta kepada Allah sebagai seorang yang kaya sebagaimana Allah telah berikan kekayaan kepada Nabi Daud as, Nabi Sulaiman, dan Nabi Ayub as.

Oleh karena itu, Muhammad adalah manusia yang patut kita teladani dan menjadikan beliau sebagai tokoh panutan dan idola kita sebagai tokoh inspirasi dalam kehidupan sehari-hari, agar kita menjadi orang yang sukses hidup di dunia dan kehidupan di akhirat.

Jadi, Muhammad Rasulullah saw adalah seseorang yang benar-benar sukses dalam segala hal, baik itu sukses menjadi seorang pedagang yang jujur dan ia pun sukses dalam menyampaikan risalah Allah.

Jadi, Muhammad itu tidaklah miskin, tetapi dia adalah orang yang kaya, yaitu kaya hati karena ia habiskan harta dan hidup dan matinya untuk Allah. Jadi apakah kita sudah menjalankan dan melaksanakan apa yang telah dibuat oleh Rasulullah, kalau belum marilah kita semua memperbaiki dan belajar menjadi seorang yang sukses dalam berdagang seperti Rasulullah , tanpa harus mengecewakan pembeli, atas barang dagangan yang kita jual.

Kiat Sukses Menjadi Seorang Pedagang ala Rasulullah :

1. Jujur,

2. Tidak memberikan harga yang tinggi kepada pembeli,

3. Memberikan pelayanan yang baik,

4. Bersikap ramah dan memberi senyum,

5. Tidak mengurangi takaran,

6. Banyak bersedekah, dan

7. Paling utama shalat lima waktu, dan

8. Banyak beramal saleh, dan

9. Bersyukur atas pemberian Allah Swt.

10. Sabar, ridho atas segala ketentuan Allah Swt.


Demikianlah tips sukses berdagang ala rasulullah saw, semoga dapat memberi manfaat.

Thursday, 28 August 2014

Kisah Julaibib Dan Pengantin Perempuan

Kisah Julaibib Dan Pengantin Perempuan



Wanita shalihah adalah seorang wanita yang tahan memegang bara …
Jika datang perintah dari syariat kepada salah seorang mereka, dia taat, terima, dan tunduk. Dia tidak menyanggah, tidak membangkang, ataupun mencari alasan untuk tidak menerimanya.

Perhatikanlah cerita gadis suci nan mulia ini! Cerita tentang seorang pengantin wanita…
Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Julaibib. Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?”

Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib…

Hingga suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menikahinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.”
“Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang.

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…”
“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.
Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…”
Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….”

Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melamar putrimu.”
Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…”
“Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang.
Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.”
“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.
“Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya.

Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… ! Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi.

Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?”
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” jawab keduanya.
Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
“Bawa aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya.
Sang bapak pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,

اَللّهُمَّ صُبَّ عَلَيْهِمَا الْخَيْرَ صَبًّا وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهُمَا كَدًّا كَدًّا

“Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”

Tidak selang beberapa hari pernikahannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam peperangan, dan Julaibib ikut serta bersama beliau. Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”
Beliau bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran. Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka, kemudian mereka membunuhnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,”Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya.

Anas bertutur, “Kami pun menggali kubur, sementara Julaibib radhiallahu ‘anhu tidak memiliki alas kecuali kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia digalikan dan diletakkan di liang lahatnya.”
Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah orang Anshar yang lebih banyak berinfak daripada istrinya. Kemudian, para tokoh pun berlomba melamarnya setelah Julaibib…”
Benarlah, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur: 52).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, sebagaimana dalam ash-Shahih, “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang engan itu?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia telah enggan.”

Di nukil dari, “90 Kisah Malam Pertama” karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta. alsofwah.or.id
Artikel www.Kisahmuslim.com

Tuesday, 26 August 2014

Kisah Hasan bin Sofyan Asy-Syaibani


Kisah ini hanya diangkat ketika Hasan bin Sofyan Asy-Syaibani sedang menuntut ilmu hadis di Mesir dengan delapan sahabatnya. Beliau berasal dari Afrika Utara (Maghribi), karena bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu hadis, beliau menjadi seorang ulama mujtahidin yang terkenal pada masanya. Untuk riwayat hidup beliau, saya belum menemukan dan menurut keterangan yang saya dapat dari kitab "Pendekatan Diri Kepada Allah" karangan KH. Muhammad Zein Syukri, bahwa Hasan bin Sofyan berasal dari Magribi, Afrika Utara.

Pada zaman kerajaan Ahmad bin Ibn Tulun (154 H-270 H), Sultan Ahmad Ibn Tulun pernah mendirikan sebuah masjid yang sangat megah dan indah di Mesir dan masjid itu diberi nama "Masjid Ibn Tulun" yang didirikan seratus tahun sebelum Masjid Al-Azhar, Mesir. Masjid Ahmad Ibn Tulun bukan saja hanya dipergunakan untuk melakukan ibadah sholat saja, namun juga dipergunakan untuk tempat menuntut ilmu, salah satunya adalah ilmu hadist. Masjid yang beliau bangun tersebut memiliki guru-guru besar dan murid-muridnya banyak yang berasal dari luar, salah satunya dari Afrika Utara (Magribi).

Di antara para penuntut ilmu itu, ada sembilan orang bersahabat dan salah seorang dari mereka bernama Hasan bin Sofyan Asy-Syaibani, kemudian beliau menjadi ulama ahli hadist (mujtahidin) yang sangat terkenal. Allah Subhanu wa ta'ala senantiasa dekat, melihat dan mendengar setiap perbuatan dan perkataan hamba-hambanya yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu , tanpa terkecuali sembilan pemuda miskin yang menuntut ilmu tersebut.

Kira-kira pada akhir bulan Sya'ban, mereka kehabisan bekal dan tak memiliki uang untuk belanja keperluan pada bulan Ramadhan. Ketika raja telah menetapkan tentang awal Ramadhan dan rakyat bersiap-siap untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, kesembilan pemuda yang miskin ini mulai mengikat dengan erat perut mereka dengan sorbannya untuk menahan lapar. Mereka tidur dalam masjid sambil menunggu ketentuan nasib mereka, karena tidak ada makanan untuk menyambut malam pertama bulan Ramadhan itu. Akhirnya bermusyawaralah mereka:

"Bagaimana ikhtiar kita untuk menyongsong kedatangan Ramadhan. Bekal kita sudah tidak ada lagi, sedangkan pelajaran dalam bulan ini semakin meningkat." kata salah seorang diantara mereka.

Akhirnya, karena terpaksa, mereka memutuskan akan meminta sedekah dengan cara bergantian. Jika seorang diantara mereka mengemis, maka yang delapan orang meneruskan kegiatan menuntut ilmu. Setelah diundi, maka giliran pertama jatuh kepada Hasan bin Sofyan. Menjelang Ashar, Hasan bin Sofyan yang dalam keadaan lemah berada di dalam masjid karena puasa pertama tidak makan sahur, bahkan empat hari sebelumnya hanya makan apa adanya. Ia sudah bersiap-siap untuk mengemis.

Sebelum keluar dari masjid, Hasan bin Sofyan terlebih dahulu menuju ke mihrab Masjid Ibn Tulun. Dia sholat dua rakaat. Lama dia sholat dan ketika sujud yang terakhir lama pula dia bersujud. Dia menangis dalam sujud itu. Dia mengadukan nasibnya kepada Allah Swt. Sebelum dia meminta pertolongan kepada orang lain, beliau terlebih dahulu meminta pertolongan kepada Allah. Dalam sujudnya beliau berdo'a:

"Tolonglah ya Allah, bukakanlah hati makhluk-Mu kepada kami, kepada sembilan orang hamba-Mu yang sekarang tengah kelaparan, sedang kedatangan kami ke negeri ini hanya semata-mata menuntut ilmu, yaitu ilmu hadist nabi-Mu dan utusan-Mu."

Setelah selesai sholat, Hasan bin Sofyan belum berdiri dan dia kemudian berdo'a lagi,

"Sebelum hamba-Mu ini dipermalukan oleh di antara makhluk-Mu yang tidak terbuka hatinya kepada kami orang miskin ini, kepada Engkau kuhadapkan mukaku ini, hanya Engkau yang menentukan rezeki semua makhluk-Mu dan hanya Engkau yang membukakan hati semua manusia."

Hati Hasan bin Sofyan Asy-Syaibani merasa pilu. Dia menangis tersedu-sedu, sambil menyebut nama Allah (Asma'ul Husna), nama Tuhan yang baik dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan. Selesai sholat, delapan sahabatnya telah menunggu untuk mengantarnya pergi mengemis, menadahkan tangan kepada manusia. Tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka, seorang pemuda yang tampan wajahnya, kokoh badannya, dan pantas pakaiannya, masuk kedalam masjid dan langsung menanyakan nama Hasan bin Sofyan. Para sahabatnya langsung mengarahkan pandangannya kepada beliau dan Hasan pun dengan segera menjawab, "Saya Hasan bin Sofyan, apakah maksud saudara menanyakan saya?"

Halaman: 1

Kisah sang sufi Penebar Wangi


BIOGRAFI ATTAR

Fariduddin Abu Hamid bin Ibrahim atau lebih dikenal dengan namAtt, yang artinya Si Penyebar Wangi. Meskipun sedikit sekali yang mengetahui tentang masa hidupnya, ada yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan di Nisyapur persia Barat Laut sekita tahun 506 H/1119 M. Dan meninggal pada tahun 607 H/1220 M. di Syaikhuhah dalam usia lanjut. Sebagian besar biografi hidupnya bersifat legendaris, juga dengan kematiannya ditangan seorang prajurit Jenghis Khan.

Attar pada awalnya adalah seorang penjual minyak wangi. Perjalanan hidupnya berubah pada suatu hari ketika di toko minyak wanginya yang besar didatangi seorang fakir yang sudah tua renta,attar segera bangkit dari tempat duduknya dengan menghina dan mengusir orang tua itu yang di sangkanya pengemis. Orang fakir itu menjawab dengan tenang: "Jangankan meningkalkan tokomu, meninggalkan dunia dan kemegahan dunia ini bagiku tidak sukar! Tetapi bagaimana dengan kau? Dapatkah kau meninggalkan kekayaanmu, tokomu dan dunia ini?" Attar tersentak, lau menjawab spontan, "Bagiku juga tidak sukar meninggalkan duniaku yang penuh kemewahan ini!"

Sebelum Attar selesai menjawab, orang tua itu jatuh dan meninggal seketika itu. Attar terkejut, kemudian besoknya ia menguburkan orang tua yang fakir itu. Dari kejadian itu Attar kemudian menyerahkan toko miliknya kepada sanak saudaranya, ia pun pergi mengembara tanpa membawa bekal sedikitpun untuk belajar dengan menemui para guru tasawuf . Beliaupun kemudian belajar dengan Syekh Buknaddin yang terkenal, dan setelah itu ia belajar dengan seorang sufi yang bernama Abu Sa'id bin Abil Khair. Mulailah ia mempelajari sistem pemikiran sufi, dalam teori dan praktek.

Selam 39 tahun ia mengembara ke berbagai negeri, belajar di pemukiman para waliyullah dan mengumpulkan tulisan-tulisan dari para sufi. Kemudian ia kembali ke Nisyapur dan ia melewatkan sisa hidupnya dikota itu. Attar memiliki pemahaman yang lebih tentang alam pemikiran sufi. Beliau hidup sebelum Jalaluddin Arumie.

Sebagaimana sufi-sufi lainnya, ia juga banyak mengadakan perjalanan dan diantaranya perjalanan menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dan ia juga banyak bergaul dengan tokoh sufi lainnya.

Al Attar diberi gelar oleh para sufi pada masanya dengan sebutan Saitu al Salikin (cemeti orang-orang sufi), karena ia mampu memimpin mereka berada dalam petunjuk suci dan dapat membakar cinta mereka dalam menuangkan kasih rindu mereka ke dalam karya-karya puisi ketuhanan yang indah.

Adapun kita-kitab yang telah ditulis oleh Attar antara lain adalah:

- Thadkira al 'Awliya.
- Ilahi namah.
- Musibat namah.
- dan Mantiq al Tayr

Kitab diatas adalah sebagian dari 114 judul, kitab-kitab tersebut ditulis dalam bentuk prosa dan puisi.

Di masa tuanya ia dikunjungi oleh Jalaluddin Rumi yang waktu itu masih muda, kemudian Attar memberikan salah satu bukunya kepada Jalaluddin Rumi. Selanjutnya Jalaluddin Rumi membandingkan dirinya sendiri dengan berkata, "Attar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kami hanya sampai di sebuah jalan tunggal."

Attarmeninggal dunia ketika sedang mengajar. Pada tahun 1220, Attar ditangkap saat ia berusia 110 tahun oleh pasukan Barbar yang menyerang Persia dibawah pimpinan Jenghis Khan.

Pada tahun 1862 ditemukan sebuah batu nisan di luar Nisyapur, yang didirikan antara tahun 1469 dan 1506, sekitar 250 tahun meninggalnya Attar. Di nisan itu terukir inskripsi dalam bahasa Parsi yang berbunyi sebagai berikut:

Allah kekal
Dengan nama Allah Yang Pengasih Yang Pengampun
Di sini di taman Adn bawah, Attar menebarkan wangi pada jiwa orang-orang yang paling sederhana. Inilah makam seorang yang begitu mulia sehingga debu yang terusik kakinya akan merupakan kolirium di mata langit; maka syeikh Attar Farid yang terkenak yang menjadi ikutan orang-orang suci; makam penyebar wangi yang utama dengan nafasnya yang mengharumi dunia dari kaf ke kaf. Di kedainya, sarang para malaikat, langit bagai botol obat semerbak dengan wangi sitrun. Bumi Nisyapur akan terkenal hingga hari kiamat, karena orang yang termasyur ini. Tambang emasnya terdapat di Nisyapur sebab ia dilahirkan di Zarwand di wilayah Gurgan. Ia tinggal di Nisyapur selama delapan puluh tahun dari waktu yang dilewatkannya dalam ketenangan. Dalam usia sudah amat lanjut ia dikejar-kejar pedang pasukan tentara yang menelan segalanya. Farid tewas di zaman Haluku Khan, terbunuh sebagai syahid dalam pembantaian.


Wallahu a'lam bishowab.



Sumber Gambar : http://updateoke.blogspot.com

Ketika Hati Telah Mengenal Sang Pencipta


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hati yang dalam istilah agama kita (Islam) disebut Qalb, mempunyai peranan yang penting dalam kehidupun manusia, baik secara lahiriah maupun bathiniah. Hati merupakan segumpal daging dan pusat dari semua urat nadi bermuara, terletak di sebelah kiri dada yang disebut jantung. Ia mengalirkan darah kehidupan ke seluruh organ tubuh menurut takaran tertentu dengan denyutan rata-rata setiap detik sekali. Bila hati berhenti bekerja, maka terhenti pulalah aliran darah sehingga manusia tidak dapat bergerak lagi atau disebut mati.


Hati yang ma'rifat kepada Allah adalah hati yang dipancari oleh nur iman, sehingga hati seseorang yang telah berma'rifat (mengenal Allah), hati itu akan mengendalikan akal yang selalu cenderung pada kehendak hawa nafsu. Dengan demikian hati yang dipancari oleh nur keimanan, akan bekerja sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wata'ala dan membawa akal kearah menginsafi diri (mengenal diri), bahwa manusia merupakan makhluk yang berkewajiban untuk memuliakan dan mematuhi perintah Sang Pencipta yang telah menjadikan dirinya.


Jadi, hati yang ma'rifat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, akan selalu ingin menjaga kesucian dari tipu daya akal, dunia, dan tipu muslihat iblis laknatullah. Selalu menjaga hatinya agar tetap berada diatas akal, karena akal senantiasa menuruti hawa nafsu. Bila hati dapat dipengaruhi oleh akal, maka akan hilanglah kesucian hati yang telah dipancari oleh nur iman. Sebab sesungguhnya hati itu tidak mau dikotori oleh sesuatu yang melekat pada dirinya. Banyak perbuatan seseorang yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh hatinya sendiri, seperti mulutnya mengucapkan "tidak", tetapi hatinya mengatakan "ya" yang bila kita teliti nyatalah kebenaran hati dan kebohongan mulut. Oleh karena itu Allah selalu menilai perbuatan manusia itu dari segi ikhsan, ketulusan dan keikhlasan hatinya. Jika hati itu mengarah kepada Allah, maka akan semakin baik pula iman seseorang, namun apabila hati mengarah kepada selain Allah, maka hati itu akan condong kepada kejelekan dan akan menjadi buruk hatinya. Akibatnya hati itu akan menjadi benda yang tidak berharga disisi Allah.


Sungguh bahagialah seseorang yang beriman dan tetap istiqamah dalam keimanan. Sebab seseorang akan senantiasa memelihara kesucian hati dan berhati-hati dalam memelihara kebersihan dan kesempurnaan hidupnya, karena ia tahu benar bahwa Allah yang telah menjadikan dirinya itu sangat dekat dan mengetahui semua perbuatannya, dan perbuatannya itu pasti dicatat oleh malaikat. Sebagaimana Firman Allah berikut ini.
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapakannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 16-18)


Demikianlah kalau iman telah tertanam di hati manusia. Kekhusyukan ibadahnya dan kesempurnaan perilakunya mencerminkan ketebalan iman di dalam dadanya, bersatu kata dengan perbuatannya, karena dirinya telah mengenal Rabb Yang Maha Agung dan Maha Sempurna. Hatinya menjadi tenang dengan senantiasa menginggat Allah (Dzikrullah) dan ia akan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah SWT.
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang damai dan diridhai-Nya. Masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surgaku." (QS. Al-Fajr: 27-30).



Sunday, 24 August 2014

Rumah Tangga Sakinah Bagi Seorang Wanita


Bagi seorang wanita mukminah, pernikahan adalah salah satu perwujudan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan sarana untuk mencapai keridhaan-Nya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat. Barangsiapa yang telah memiliki modal, hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu penekan hawa nafsunya” (HR. Ibnu Majah).
Jika seseorang meniatkan di awal pernikahannya sebagai satu niat untuk beribadah kepada-Nya, meninggalkan zina, dan mendekatkan diri kepada-Nya; maka dia akan memperoleh pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan itu. Sebaliknya, jika ia mempunyai niat di awal pernikahannya hanya sekedar untuk mencari harta, pangkat, kedudukan, atau popularitas; maka ia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Bahkan dosa jika yang ia niatkan tersebut merupakan maksiat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)


Tanggung Jawab Istri pada Diri Sendiri
Diantara tanggung jawab istri kepada diri sendiri diantaranya adalah :

1. Menuntut ilmu syar’i

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)
Yaitu :

- Ilmu tentang prinsip-prinsip ‘aqidah dan keimanan (Rukun Iman)
- Ilmu tentang apa-apa yang diwajibkan dalam rukun Islam, seperti syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.
- Ilmu-ilmu penunjang yang bermanfaat lainnya.
Seorang ibu rumah tangga wajib mengetahui tentang pembatal-pembatal syahadat, wajib mengetahui bagaimana cara thaharah dan sholat yang benar, dan yang lain sebagainya. Tidak boleh terjadi pada seorang ibu bahwa ia tidak mengetahui tentang hukum-hukum haidh, padahal haidh adalah sesuatu yang rutin mendatanginya.

Bagaimana seorang ibu rumah tanga bisa menuntut ilmu di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga ? Hal yang pertama bahwa ia harus menumbuhkan perasaan butuh dan cinta kepada ilmu. Jika seseorang telah mampu menumbuhkan perasaan itu pada dirinya, maka ia akan memanfaatkan semua kesempatan dimana ia bisa memperoleh ilmu, baik dalam majelis-majelis ilmu atau membaca buku-buku. Dalam seminggu, usahakanlah untuk dapat bermajelis ilmu minimal satu kali. Bisa ia menghadiri majelis-majelis ilmu secara khusus, atau bermajelis dengan suaminya untuk saling membacakan satu pembahasan dalam buku agama. Selain itu, ia bisa memanfaatkan beberapa waktu luang dengan membaca buku agama saat kesibukan belum menderanya, misalnya 15 – 20 menit sebelum sholat shubuh;atau 15 – 20 menit setelah ‘isya’ di saat anak-anak telah tidur di pembaringannya.

2. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh

Adalah menjadi hal yang mutlak lagi wajib untuk mengamalkan ilmu. Amal adalah buah ilmu. Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, ia laksana tumbuhan yang tidak memberikan manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya. Ilmu bisa menjadi pembela atau malah jadi bencana bagi diri kita sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu” (HR. Muslim)
Contoh mudah yang bisa kita lakukan adalah ketika kita tahu bagaiamana cara wudhu yang benar dari penjelasan Ustadz atau hasil membaca buku; maka dengan tidak menunda-nunda kita praktekkan pada diri kita jikalau mau melaksanakan sholat. Jika kita tahu tentang bahaya syirik, maka dengan segera kita bersihkan diri dan rumah tangga kita dari hal-hal yang berbau syirik seperti membuang segala macam jimat, rajah, gambar makhluk hidup, atau benda pusaka keramat peninggalan leluhur (yang tentunya harus dikomunikasikan secara bijaksana dengan suami). Dan yang lain sebagainya.

Tanggung Jawab Istri pada Suami

Tanggung jawab istri kepada suami terkait erat dengan pemenuhan hak-hak suami oleh istri. Harus menjadi satu pemahaman bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya di rumahnya. Allah swt berfirman : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An-Nisaa’ : 34).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan keagungan hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya dengan sabdanya : “Gambaran hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya adalah seandainya pada kulit suaminya itu ada borok (luka), lalu dia (istri) menjilatinya, maka dia belum benar-benar memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Abi Syaibah 4/2/303 no. 17407; hasan ).
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya” (HR. At-Tirmidzi).

Ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu faktor yang akan membawanya masuk surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai” (HR. Ibnu Hibban , shahih).

Beberapa kewajiban istri yang harus dipenuhi kepada suaminya antara lain adalah :

1. Patuh kepada perintah suami

Hushain bin Mihshan mengkisahkan : Bahwasannya bibinya pernah mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam untuk satu keperluan. Setelah menyelesaikan keperluannya, maka Nabi berkata kepadanya : ‘Apakah engkau bersuami ?’. Aku menjawab : ‘Ya’. Beliau melanjutkan : ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya ?’. Aku menjawab : ‘Aku tidak pernah membantahnya/menolaknya kecuali pada perkara yang tidak sanggup aku lakukan’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Maka perhatikanlah sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia (suamimu) adalah surga dan nerakamu” (HR. Ahmad).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang model wanita yang paling baik, maka beliau menjawab : “Dia dalah seorang wanita yang patuh saat suaminya menyuruhnya, menarik saat suaminya memandangnya, menjaga kemuliaan suami dengan memelihara kehormatannya sendiri, dan mengurus harta suami” (HR. An-Nasa’i ,shahih).

Catatan : Taat ini dengan syarat : Hanya dalam hal yang ma’ruf bukan dalam kemaksiatan.

“Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya boleh dilakukan dalam kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, seorang istri tidak boleh taat kepada suaminya jika ia menyuruh untuk membuka jilbab, menemani seorang laki-laki yang bukan mahram tanpa ada suaminya, berbohong, dan lain-lain. Namun bukan pula berarti ia membatalkan ketaatannya secara keseluruhan. Ia tetap wajib taat pada hal-hal yang mubah dan yang disyari’atkan.

2. Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali setelah mendapat ijin dari suami.

Allah berfirman : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu” (QS. Al-Ahzab : 33).
Tinggal di dalam rumah adalah hukum asal bagi seorang wanita. Ia tidak boleh keluar melainkan dengan sebab dan syarat. Sebabnya adalah karena hajat, dan syaratnya adalah ijin dari suami, berpakaian syar’i, tidak memakai wangi-wangian, dan yang lainnya (yang akan dijelaskan kemudian).

Untuk hal-hal yang sifatnya rutinitas dimana ia telah mendapatkan ijin dari suami secara umum, maka ia boleh keluar tanpa seijin suaminya (walau meminta ijin tetap lebih baik). Misalnya : keluar rumah untuk belanja di warung, menyapu halaman, dan lainnya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan salah satu sebab mengapa wanita tinggal di dalam rumah : “Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka akan dibanggakan oleh syaithan” (HR. At-Tirmidzi).

Hingga dalam permasalahan ibadah (sholat di masjid), rumah tetap lebih baik bagi seorang wanita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi sholat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” (HR. Abu Dawud)

3. Menerima ajakan suami.

Ini hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun istrinya tersebut menolak (tanpa udzur yang dibenarkan syari’at) maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh tiba” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Tidak memasukkan seseorang ke dalam rumah kecuali dengan seijin suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya kalian (para suami) memiliki hak yang harus dipenuhi mereka (para istri), agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai” (HR. Muslim).
“Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin suaminya tersebut” (HR. Muslim).

Larangan ini berlaku untuk orang-orang yang memang suaminya tidak meridhainya. Namun bila orang tersebut termasuk orang-orang yang diridhai – semisal kaum kerabat -, maka ia diperbolehkan menerimanya masuk ke rumahnya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Jika orang/tamu tersebut laki-laki bukan termasuk mahram (semisal : teman kerja suami atau tetangga), maka ia diperbolehkan untuk menerima dengan catatan aman dari fitnah dan menghindari khalwat (berdua-duaan). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

5. Tidak bersedekah dengan harta suami kecuali mendapat ijin darinya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali seijin suaminya tersebut” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

6. Berterima kasih kepada suami dan tidak mengingkari kebaikannya, serta memperlakukan suami dengan baik.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya, padahal ia tidak mungkin lepas dari ketergantungan padanya” (HR. Nasa’i)

Berterima kasih ini tidak hanya sebatas lisan, tapi terwujud pada penampakan rasa bahagia dan nyaman selama mendampingi suami dan melayani kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya, tidak mengabaikannya, tidak mengeluh dengan segala kondisi yang dialami bersamanya, dan yang lainnya.

7. Tidak mengungkit-ungkit kebaikannya kepada suami, jika kebetulan dia menafkahi suami dan anak-anaknya.

Adakalanya seorang suami diberi cobaan berupa sakit, cacat, atau yang semisalnya sehingga ia tidak bisa memberi nafkah sebagaimana mestinya; yang dengan itu istri menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Haram hukumnya mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Allah telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al-Baqarah : 264).

8. Selalu menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wanita mana saja yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada masalah yang berarti (menurut kacamata syari’at), maka diharamkan baginya wangi bau surga” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah , Ahmad).
Dan ingatlah wahai para wanita bahwa engkau telah Allah jadikan salah satu perhiasan dunia. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Tanggung Jawab Istri pada Anak

1. Menyusui anak hingga usia dua tahun.

Allah swt berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al-Baqarah : 233).

2. Mengasuh, memperhatikan, dan memelihara anak dengan nafkah yang diberikan oleh suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada Hindun radliyallaahu ‘anhaa: “Ambillah dengan baik (dari harta suamimu) sebatas mencukupi keperluanmu dan anakmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Mendidik anak dengan pendidikan yang baik dan Islami.

Hal utama yang harus diberikan dan diperhatikan adalah pendidikan agama, sebab pendidikan ini merupakan dasar yang akan membentuk tingkah laku anak di kemudian hari. Penanaman aqidah tauhid yang kuat adalah mutlak diberikan. Anak harus tahu kewajiban dan tugas mengapa ia dilahirkan di muka bumi, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Juga dengan penanaman prinsip-prinsip keimanan dalam rukun iman. Kemudian diikuti dengan penanaman kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam yang lain seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Dari konsep pembangunan anak yang beriman dan beramal shalih, tentu saja harapan kita kelak ia menjadi sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi kita di akhirat. Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu : shadaqah jariyyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Wallahu a’lam

------Cahya Islam - 1001-KisahIslami.Com
-----

Gambar : http://fafablogku.blogspot.com